Razia Yang Menyeret Ranu

GEDORAN di pintu gerbang rumah Ranu Muda Adi Nu groho sedikit lewat tengah malam, Kamis dua pekan lalu, membangunkan semua penghuni rumah. Bergegas, Ranu beranjak ke pintu, sementara istrinya menenangkan kedua anak mereka yang tergagap bangun. Di luar, puluhan polisi sudah mengepung rumah pekerja media online, Panjimas. com, ini.

Rumah Ranu di Desa Kwarasan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, itu mendadak jadi perhatian warga setempat. ”Ia diDOK. PANJIMAS.COM borgol dan dibawa masuk lagi,” kata Anies Prijo Anshorie, pengacara Ranu, Selasa pekan lalu, mengisahkan kembali insiden itu. Dinihari itu, Ranu dibawa ke markas Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Siang harinya, juru bicara Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Djarot Padakova, mengumumkan alasan penangkapan Ranu.

Dia diduga terlibat aktif dalam razia yang dilakukan Laskar Umat Islam Surakarta di sebuah kafe bernama Social Kitchen Lounge and Bar pada Ahad dinihari dua pekan lalu. Dalam razia ini, kafe itu porak-poranda dan sembilan pengunjung terluka. Hingga Selasa pekan lalu, polisi sudah menangkap sebelas tersangka pelaku razia. Diperkirakan jumlah itu bakal bertambah.

”Ada puluhan orang yang ikut sweeping,” ujar Djarot. Mereka akan dijerat dengan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana karena menganiaya orang dan merusak barang, yang ancaman hukumannya 5 tahun 6 bulan penjara. Beberapa jam setelah penangkapan Ranu, beredar tagar #SaveRanu di media sosial. Penggalangan dukungan itu dibarengi dengan penyebaran testimoni istri Ranu, Nuraini. Dengan tulisan tangan yang dilengkapi meterai, Nuraini menceritakan detail penangkapan Ranu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *